INDIKATOR DAN ALAT UKUR IQ, EQ DAN SQ.

Berdasarkan pengalaman para ilmuan, tidak ada indikator dan alat ukur yang jelas untuk mengukur atau menilai kecerdasan setiap individu, kecuali untuk kecerdasan intelektual atau IQ, dalam konteks ini dikenal sebuah tes yang biasa disebut dengan psikotest untuk mengetahui tingkat IQ seseorang, akan tetapi test tersebut juga tidak dapat secara mutlak dinyatakan sebagai salah satu identitas dirinya karena tingkat intelektual seseorang selalu dapat berubah berdasarkan usia mental dan usia kronologisnya.

Sedangkan untuk kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), hingga saat ini belum ada alat yang dapat mengukurnya dengan jelas karena dua kecerdasan tersebut bersifat kualitatif bukan kuantitatif.

Seperti halnya dengan alat ukur kecerdasan, indikator orang yang memilki IQ, EQ dan SQ juga tidak ada ketetuan yang jelas, sehingga untuk mengetahui seseorang tersebut memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual biasanya dilihat dari hal-hal yang biasanya ada pada orang yang memiliki IQ, EQ dan SQ tinggi dan dilihat berdasarkan kompone dari klasifikasi kecerdasan tersebut.

Orang yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup tinggi dapat dilihat selain dari hasil tes, dapat terlihat juga bahwa biasanya orang tersebut :

  1. Memiliki kemampuan matematis
  2. Memiliki kemampuan membayangkan ruang
  3. Melihat sekeliling secara runtun atau menyeluruh
  4. Dapat mencari hubungan antara suatu bentuk dengan bentuk lain
  5. Memiliki kemampuan untuk mengenali, menyambung, dan merangkai kata-kata serta mencari hubungan antara satu kata dengan kata yang lainya, Memiliki memori yang cukup bagus.

Seseorang dengan kecerdasan emosi (EQ) tinggi diindikatori memiliki hal-hal sebagai berikut :

  1. Sadar diri, panada mengendalikan diri, dapat dipercaya, dapat beradaptasi dengan baik dan memiliki jiwa kreatif,
  2. Bisa berempati, mampu memahami perasaan orang lain, bisa mengendaikan konflik, bisa bekerja sama dalam tim,
  3. Mampu bergaul dan membangun sebuah persahabatan,
  4. Dapat mempengaruhi orang lain,
  5. Bersedia memikul tanggung jawab,
  6. Berani bercita-cita,
  7. Bermotivasi tinggi,
  8. Selalu optimis,
  9. Memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan
  10. Senang mengatur dan mengorganisasikan aktivitas.

Lain halnya dengan indikator-indikator dari orang yang memiliki IQ dan EQ yang cukup tinggi di atas, orang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi tidak dapat dilihat dengan mudah karena kembali ke pengertian SQ, yaitu kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan makna dan nilai, untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa jalan hidup yang kita pilih memiliki makna yang lebih daripada yang lain, dari hal tersebut dapat dilihat bahwa kecerdasan spiritual adalah kecakapan yang lebih bersifat pribadi, sehingga semua kembali kepada individu itu sendiri dan kepada hubungannya dengan Sang Pencipta.

Tanda dari orang –orang yang memiliki SQ yang berkembang dengan baik/tinggi :

  1. Mampu bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)
  2. Memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi
  3. Mampu untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
  4. Mampu untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
  5. Memiliki kualitas hidup yang didasari oleh visi dan nilai-nilai
  6. Menghindari hal-halyang dapat  menyebabkan kerugian yang tidak perlu
  7. Cenderung untuk memandang segala hal itu berkaitan (holistik)
  8. Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa?” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban mendasar
  9. Mandiri SQ yang berkembang dengan baik dapat menjadikan seseorang memiliki “makna” dalam hidupnya. Dengan “makna” hidup ini seseorang akan memiliki kualitas “menjadi”, yaitu suatu modus eksistensi yang dapat membuat seseorang merasa gembira, menggunakan kemampuannya secara produktif dan dapat menyatu dengan dunia.

HAKIKAT MANUSIA DAN PENGEMBANGAN

Sasaran pendidikan adalah manusia. Manusia dan hewan berbeda karena manusia memiliki sifat hakikat terhadap pendidikan.

  1. Sifat Hakikat Manusia

Manusia bersifat filsofis karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis dan universal tentang ciri hakiki manusia. Bersifat normative karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu yang luhur.

  1. Pengertian Sifat Hakikat Manusia

Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil (dai bukan hanya gradual) membedakan manusia dari hewan.

Sifat manusia menurut para ahli :

  • zoon politicon (hewan yang bermasyarakat) pendapat ini menurut Socrates
  • Max Scheller yaitu Das Kranke Tier (manusia adalah hewan yang sakit) yang selalu gelisah dan bermasalah
  1. Wujud Sifat Hakikat Manusia
  1. Kemampuan menyadari diri
  2. Kemampuan bereksistensi

Yaitu kemampuan menempatkan diri dan menerobos dan mengatasi batas-batas yang membelenggu dirinya. Karena inilah manusia mempunyai kebebasan yaitu manusia bukan ‘ber-ada’ melainkan “meng-ada”.

  1. Kata hati (conscience of man)

Sering disebut hati nurani, pelita hati menunjukkan bahwa kata hati itu adalah kemampuan pada diri manusia yang memberi penerangan tentang baik buruknya perbuatan sebagai manusia.

  1. Moral

Moral juga sering disebut sebagai etika adalah perbuatan sendiri. Moral yang sinkron dengan kata hati yang tajam yaitu benar-benar baik bagi manusia sebagai manuspa merupakan moral yang baik atau moral yang tinggi (luhur)

  1. Tanggung jawab

Yaitu keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Dengan demikian tanggung jawab dapat diartikan sebagai keberanian untuk menentukan bahwa suatu perbuatan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia.

  1. Rasa Kebebasan

Merdeka adalah rasa bebas (tidak terikat oleh sesuatu) yang sesuai dengan kodrat manusia. Kemerdekaan berkait erat dengan kata hati dan moral. Yaitu kata hati yang sesuai dengan kodrat manusia dan moral yang sesuai dengan kodrat manusia.

  1. Kewajiban dan Hak

Kewajiban merupakan sesuatu yang harus dipenuhi oleh manusia. Sedangkan hak adalah merupakan sesuatu yang patut dituntut setelah memenuhi kewajiban.

Disiplin diri menurut Selo Soemardjan (wawancara TVRI, Desember 1990)

  1. Disiplin rasional, yang bila terjadi pelanggaran menimbulkan rasa salah.
  2. Disiplin sosial, jika dilanggar menimbulkan rasa malu
  3. Disiplin efektif, jika dilanggar menimbulkan rasa gelisah
  4. Disiplin agama, jika dilanggar menimbulkan rasa berdosa

Keempat disiplin tersebut perlu ditanamkan pada peserta didik dengan disiplin agama sebagai titik tumpu.

  1. Kemampuan Menghayati Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah suatu istilah yang lahir dari kehidupan manusia. Peenghayatan hidup yang disebut “kebahagiaan”.

Berikut gambar 1.1a sebagai hasil perpaduan dari pengalaman yang menyenangkan (+) dengan yang pahit (-) dan dalam proses.

Kebahagiaan tidak cukup digambarkan hanya sebagai himpunan saja, tetapi merupakan integrasi dari segenap kesenangan, kepuasan dan sejenisnya dengan pengalaman pahit dan penderitaan.

Kesimpulannya yang dapat ditarik adalah kebahagiaan ialah rupanya tidak terletak pada keadaan sendiri secara faktual (lulus sarjana, mendapat pekerjaan dan seterusnya) ataupun pada rangkaian prosesnya maupun pada perasaan yang diakibatkannya tetapi terletak pada kesanggupan menghayati semua itu dengan keheningan jiwa, dan mendudukkan hal-hal tersebut di dalam rangkaian atau ikatan tiga hal yaitu : usaha, norma-norma dan takdir.

–         Usaha adalah perjuangan yang terus menerus untuk mengatasi masalah hidup

–         Norma-norma adalah kaidah-kaidah hidup

–         Takdir merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dalam proses terjadinya kebahagiaan.

Kebahagiaan dapat diusahakan peningkatannya yaitu kemampuan berusaha dan kemampuan menghayati hasil usaha dalam kaitannya dengan takdir.

Gambar : 11b. kebahagiaan sebagai perpaduan dari usaha, hasil takdir dan kesediaan menerimanya.

Manusia adalah makhluk yang serba terhubung, dengan masyarakat, lingkungan, diri sendiri dan Tuhan. Dalam krisis total manusia mengalami krisis hubungan dengan masyarakat dengan lingkungannya, dengan diri sendiri dan dengan Tuhan.

Kebahagiaan hanya dapat dicapai apabila manusia meningkatkan kualitas hubungannya sebagai makhluk yang memiliki kondisi serba terhubung dan dengan memahami kelebihan dan kekurangan diri sendiri.

Manusia yang menghayati kebahagiaan adalah pribadi manusia dengan segenap keadaan dan kemampuannya.

  1. Dimensi-dimensi Manusia dan Potensi Keunikan dan Dinamikanya
  1. Dimensi keindividualan

Lysep mengartikan individual sebagai “orang, seorang”, sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in device) selanjutnya individu diartikan sebagai pribadi (Lysen, individual dan masyarakat, 14)

M.J. Langeveld (Belanda) menyatakan setiap orang memiliki individualitas (1955 : 54)

Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan ciri yang sangat esensial dari adanya individualitas pada diri manusia. M. J. Langeveld menyatakan bahwa setiap anak memiliki dorongan untuk mandiri yang sangat kuat, meskipun di sisi lain pada anak terdapat rasa tidak berdaya, sehingga memerlukan pihak lain (pendidik).

Tugas pendidik hanya menunjukkan dorongan dan jalan subjek didik bagaimana cara memperoleh sesuatu dalam mengembangkan diri dengan berpedoman pada prinsip in ngarso suntulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

  1. Dimensi kesosialan

Setiap bayi yang dilahirkan dikaruniai potensi sosial (M.J. Langeveld, 1955 : 54)

Pernyataan tersebut diartikan bahwa setiap anak dikarunia benih kemungkinan untuk unggul. Menurut Lengeveld adanya kesediaan untuk saling menerima dan memberi itu dipandang sebagai kunci sukses pergaulan. Dengan adanya rasa ingin bergaul setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya.

Manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain kenyataan ini hanya berlaku pada bayi yang belum berdaya, dan berlaku hingga anak-anak remaja, setelah dewasa bahkan sampai sisa-sisa kehidupan manusia.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!